MENINGKATKAN
KETERAMPILAN KOMUNIKASI
PESERTA DIDIK
KELAS VIII SMP NEGERI 10 SOKAN
MELALUI
PENDEKATAN METODE DISKUSI
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas
VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui metode diskusi. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian deskriptif kualitatif
dimana data yang diperoleh berdasarkan observasi. Lokasi penelitian
dilaksanakan pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa guru perlu melakukan metode diskusi yang
berkesinambungan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas terhadap peserta didik
kelas VIII agar peserta didik terlatih dalam berkomunikasi serta dapat belajar
saling berinteraksi.
Kata
Kunci : Meningkatkan, keterampilan, komunikasi, metode diskusi
PENDAHULUAN
Keterampilan
merupakan suatu kompetensi yang telah menjadi perhatian serius bagi pemerhati
pendidikan. Perspektif tersebut tidak terlepas dari keyakinan bahwa suatu
keterampilan yang dimilki dapat meningkatkan hasil maupun pencapaian yang
maksimal dari suatu hasil kerja keras sehingga mendapatkan sebuah pengakuan
apresiasi dari berbagai kalangan. Pemerintah telah meilhat begitu pentingnya
kompetensi keterampilan yang perlu dibangun sejak awal pendidikan peserta didik
yang kemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya suatu masyarakat. Arah tujuan
kompetensi pendidikan saat ini tidak terfokus pada satu kompetensi saja
melainkan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi
tersebut jika dikolaborasikan dan disinergikan akan menuju kepada suatu
kombinasi yang maksimal yaitu kecerdasan.
Jika
dijabarkan lagi maka keterampilan meliputi suatu kompetensi yang cukup luas dan
tidak terbatas pada satu bidang saja. Ada beberapa keterampilan yang sudah dikenal dengan istilah keterampilan
abad ke-21 4 C antara lain yaitu :
1. Keterampilan
berpikir kritis (Critical Thinking)
2. Keterampilan
dalam bekerja sama ( Colaboration )
3. Keterampilan
dalam berkomunikasi ( Comunication )
4. Keterampilan
dalam berkreasi dan berinovasi (
Creativity dan Inovation )
Pemerintah
telah menempatkan kompetensi keterampilan pada posisi yang sama dengan
kompetensi sikap dan pengetahuan. Jika melihat pendidikan pada masa yang lalu,
maka kompetensi keterampilan belum menjadi perhatian dalam pendidikan.
Pendidikan kala itu memusatkan perhatiannya pada pencapaian kompetensi
pengetahuan sebagai acuan atau patokan keberhasilan dalam suatu pendidikan.
Akan tetapi pada masa kini dunia sama sama mengetahui bahwa seseorang hidup
bukan saja karena kompetensi pengetahuan melainkan karena kompetensi
keterampilan sebagai salah satu kecakapan hidup.
SMP
Negeri 10 Sokan terletak di Desa Teluk Pongkal Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi
Provinsi Kalimantan Barat. SMP Ngeri 10 berdiri sejak tahun 2017 dengan kapasitas
ruang belajar yang tentunya masih baik. SMP Negeri 10 Sokan baru melakukan
kegiatan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru perdana pada bulan Juli
tahun 2019 sehingga sampai dengan saat ini baru memiliki 2 rombongan belajar
peserta didik. Jika akses jalan darat dapat dilalui dengan baik, maka jarak
antara kecamatan Sokan dengan SMP Negeri 10 Sokan dapat ditempuh selama 45
menit. Akan tetapi kondisi jalan darat belum maksimal sehingga akses utama
menuju SMP Negeri 10 Sokan adalah melalui jalur sungai yang dapat ditempuh
antara 3 - 4 jam.
Peserta
didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan berjumlah sebanyak 9 siswa terdiri dari 5
laki-laki dan 4 perempuan. Usia peserta didik yang termuda di kelas VIII
berumur 12 tahun dan usia tertua berumur 20 tahun. Berikut ini dapat penulis
deskripsikan mengenai data dan kemampuan komunikasi peserta didik kelas VIII
SMP Negeri 10 Sokan.
Tabel 1
|
No. |
Nama |
Kelas |
Umur |
Perilaku |
|
1. |
Aneng |
VIII |
17 Tahun |
Cenderung malu dan tidak percaya diri
saat komunikasi terhadap guru di kelas |
|
2. |
Butet |
VIII |
14 Tahun |
Belum percaya diri sepenuhnya dalam
memberi jawaban terhadap guru di kelas |
|
3. |
Entong |
VIII |
12 Tahun |
Masih sangat lambat dan didahului
melihat temannya dulu saat ditanya guru |
|
4. |
Ebit |
VIII |
19 Tahun |
Sangat malu malu dan tidak yakin
dengan diri sendiri pada saat berinteraksi di depan guru |
|
5. |
Herman Niyus |
VIII |
14 Tahun |
Cukup baik dalam menjawab guru namun
masih ada perasaan takut salah saat menjawab pertanyaan guru |
|
6. |
Ovi |
VIII |
20 Tahun |
Masih malu malu
|
|
7. |
Ilo |
VIII |
16 Tahun |
Takut salah dalam menjawab pertanyaan
guru dan masih malu -malu |
|
8. |
Rudi |
VIII |
17 Tahun |
Belum percaya diri
|
|
9. |
Talis |
VIII |
16 Tahun |
Takut salah dalam menjawab pertanyaan
guru dan belum percaya diri |
Sejak
penulis bertugas di SMP Negeri 10 Sokan terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019
semua peserta didik kelas VIII tidak ada
yang berinisiatif terlebih dahulu menyapa guru kecuali disapa oleh guru
terlebih dahulu. Ketika penulis hendak memasuki kantor dan bertemu peserta
didik yang berada di depan kantor namun tidak ada diantara peserta didik yang
menyapa. Sebagaimana data yang ditampilkan pada tabel 1 maka dapat
dideskripsikan bahwa hampir keseluruhan peserta
didik kelas VIII cenderung malu, kurang percaya diri, takut salah dalam
memberi jawaban dan belum terampil dalam berkomunikasi dengan baik dan benar
terhadap guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dalam proses
pembelajaran ketika penulis bertanya kepada salah seorang peserta didik, ekspresi
yang timbul terkesan menunjukan rasa
takut salah dalam menjawab. Pada waktu yang sama penulis juga bertanya kepada
salah seorang peserta didik yang lainnya, dia menjawab pertanyaan tetapi dengan
sikap malu-malu. Kemudian penulis juga bertanya kepada salah seorang peserta
didik lainnya, hasilnya dia menjawab namun belum terampil berkomunikasi.
Kondisi yang demikian tentu tidak baik dipandang dan perlu ada perubahan dalam
hal keterampilan berkomunikasi.
Berdasarkan
latar belakang permasalahan tersebut maka dipandang perlu untuk meningkatkan
keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui
metode diskusi. Pemilihan metode diskusi dipandang tepat karena menciptakan
suatu iklim dimana peserta didik belajar terbiasa dalam berkomunikasi yang
dimulai dengan memberikan gagasan atau ide dalam kelompok mereka maupun pada
saat presentasi di depan kelas. Berdasarkan uraian masalah maka rumusannya
yaitu bagaimanakah peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII
SMP Negeri 10 Sokan menggunakan metode diskusi ?
Jean
Piaget membagi tahap perkembangan anak sesuai usia diantaranya yaitu :
1. Periode
sensorimotor ( usia 0-2 tahun )
2. Periode
pra operasional (usia 2-7 )
3. Periode
operasional konkret ( usia 7 – 11 tahun )
4. Periode
operasional formal ( usia 11- sampai dewasa )
Mengacu
pada teori Jean Piaget tersebut maka peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10
Sokan berada pada fase periode operasional formal. Tahap operasional formal
adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori piaget. Tahap ini
mulai dialami anak usia sebelas tahun ( pubertas ) dan terus berlanjut sampai
dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir
secara abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang
tersedia.[1]
Berdasarkan teori Jean Piaget tersebut maka seharusnya peserta didik kelas VIII
SMP Negeri 10 Sokan tersebut sudah mampu dalam hal berkomunikasi kepada guru
saat interaksi dalam kegiatan pembelajaran. Namun pada kenyataannya peserta
didik belum menunjukkan kompetensi keterampilan komunikasi yang baik pada saat terjadinya
interaksi pembelajaran antara guru terhadap peserta didik.
Kajian Pustaka
Pengertian Meningkatkan
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia kata peningkatan adalah kata benda, meningkatkan/peningkatan
adalah kata kerja dengan arti antara lain : 1). Menaikkan (derajat, taraf dsb);
mempertinggi, memperhebat (produksi, dsb), 2). Mengangkat diri; memegahkan
diri. Peningkatan adalah proses perbuatan, cara meningkatkan usaha dan sebagainya.[2]
Sedangkan menurut Adi seperti yang dikutip Yandry Pagappong peningkatan berasal
dari kata tingkat. yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian
membentuk susunan. Tingkat juga dapat berarti
pangkat, taraf dan kelas. Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara
umum peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat dan kualitas
maupun kuantitas. Kata peningkatan juga dapat berarti menggambarkan perubahan
dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif.[3]
Berdasarkan
pendapat di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peningkatan
merupakan suatu kondisi dimana terjadi perubahan dari yang sebelumnya masih
dikategorikan rendah atau belum mencapai target sebagaimana seharusnya, kini
menjadi kategori yang sudah lebih baik dan memenuhi target yang diharapkan.
Peningkatan merupakan suatu keadaan yang dapat diukur dan dapat diamati.
Pengertian Keterampilan
Keterampilan
merupakan suatu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah
menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. Gordon mengatakan bahwa
keterampilan adalah kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan
cermat.[4] Pengertian
lain bahwasannya kata keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti
cakap dalam menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan. Keterampilan berarti
kecakapan untuk menyelesaikan tugas.[5]
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan
merupakan suatu kemampuan dalam melakukan dan mengerjakan sesuatu. Pemerintah
telah memusatkan kurikulum pendidikan yang mengacu pada tercapainya kompetensi
keterampilan dalam semua jenjang pendidikan. Dunia pendidikan kini mengenal
yang namanya keterampilan abad 21 sebagai suatu kecakapan hidup yang dibutuhkan
dalam kehidupan seseorang. Sebagaimana pernyataan I Wayan Redhana bahwa
keterampilan abad ke-21 merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai oleh
setiap orang agar berhasil dalam menghadapi tantangan, permasalahan, kehidupan
dan karir di abad ke-21.[6]
Berdasarkan pendapat di atas untuk menjawab tantangan, permasalahan dan
kehidupan dan karir, maka peserta didik perlu memiliki adanya keterampilan.
Pengertian Komunikasi
Pendidikan saat
ini berusaha untuk mengantarkan peserta didik menuju pribadi yang memiliki
keterampilan abad 21 yang mana salah satunya ialah keterampilan berkomunikasi (Communication ). Keterampilan
berkomunikasi ( Communication )
merupakan keterampilan untuk menyampaikan pemikiran, gagasan, ide, pengetahuan,
dan informasi baru yang dimiliki kepada orang lain melalui lisan, tulisan,
gambar, grafis atau angka. Keterampilan ini termasuk keterampilan mendengarkan,
memperoleh informasi, dan menyampaikan gagasan di hadapan orang banyak[7].
Komunikasi
tentunya tidak sekedar berbicara melainkan dapat menyampaikan pesan maupun
jawaban dengan baik sehingga maksud dan pengertian dapat dipahami secara baik
pula. Oleh karena itu komunikasi juga perlu dilakukan secara efektif agar tidak
terkesan berbelit-belit apalagi bertele-tele. Hutagalung berpendapat bahwa ada
beberapa cara berkomunikasi yang efektif :
1.
Melihat
lawan bicara
Pembicara
menatap bola mata ataupun kening lawan bicaranya, sehingga tidak terjadinya
ketersinggungan, tidak menghadapkan kea rah kanan atau kiri, dan menatap
pandangan yang tidak marah atau sinis.
2.
Suaranya
terdengar jelas
Percakapan harus memperhatikan keras
atau tidak suara, tidak hanya terdengar samar-samar, sehingga menimbulkan
ketidakjelasan inti dari percakapan.
3.
Ekspresi
wajah yang menyenangkan
Ekspresi wajah merupakan gambaran dari
hati seorang sehingga tidak menampilkan ekspresi yang tidak enak
4.
Tata
bahasa yang baik
Penggunaan bahasa sesuai dengan lawan
bicaranya, misalnya saja saat berbicara dengan anak balit, maka gunakan bahasa
yang sederhana dan mudah dimengerti. Serta berbicara dengan guru harus dengan
bahasa yang sopan.
5.
Pembicaraan
mudah dimengerti, singkat dan jelas
Pemilihan tata bahasa yang baik dan
kata-kata yang mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan kebingungan lawan
bicara.[8]
Pernyataan di
atas sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Jacob sebagaimana dikutip
Dainuri bahwa terdapat beberapa aspek-aspek pengkomunikasian yang perlu
dikembangkan yaitu :
1.
Mempresentasikan,
meliputi menunjukkan kembali (menerjemahkan) suatu ide atau masalah
dalam bentuk baru.
2. Mendengar,
peserta didik harus belajar mendengarkan dengan teliti terhadap komentar dan
pertanyaan lain. Mendengar dengan teliti dapat mengkonstruksi pengetahuan yang
sistematis.
3. Membaca,
dalam hal ini menekankan pada membaca literatur peserta didik dan secara
bertahap meningkatkan menggunakan buku teks.
4.
Berdiskusi,
bertujuan untuk mengembangkan diskusi kelas dan membantu peserta didik
mempraktikkan
keterampilan komunikasi lisan
5.
Menulis,
lebih menekankan pada mengekspresikan ide-ide dalam bentuk tulisan[9]
Dari pendapat di
atas dapat ditarik kesimpuan bahwa komunikasi merupakan kemampuan dalam
menjelaskan pemahaman maupun pendapat atau pertanyaan dari seseorang dalam
bentuk lisan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Lebih lanjut bahwa
komunikasi yang baik yaitu efektif dimana suara terdengar jelas, pembicaraan
mudah dimengerti, memiliki tata bahasa yang baik disertai wajah yang
menyenangkan.
Pengertian Metode Diskusi
Metode diskusi adalah
suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para
siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusunan berbagai alternatif
pemecahan atas sesuatu masalah (Suryosubroto, 2009:167). Sedangkan menurut
Semiawan (dalam Nurjamal, dkkk 2014:24) metode diskusi adalah suatu cara
penyampaian suatu materi pelajaran melalui sarana pertukaran pikiran untuk
memecahkan persoalan yang dihadapi.[10]
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode
diskusi merupakan suatu kondisi dalam bentuk interaksi antar peserta didik yang
di dalamnya terjadi pertukaran pikiran guna menarik suatu kesimpulan maupun
memecahkan persoalan.
Posedur Metode Diskusi
Dalam
melaksanakan metode diskusi tentu perlu memperhatikan prosedur dari pada metode
diskusi itu sendiri. Mengenai prosedur metode diskusi Mawardi Ahmad dkk,
mengemukakan bahwa hal-hal yang harus dipersiapkan antara lain : (a) Guru
menyampaikan tujuan yang diharapkan; (b) Membentuk kelompok dan menentukan
jumlah murid tiap kelompok (c) Menentukan tugas yang harus dilaksanakan tiap
kelompok; (d) Melaksanakan diskusi kelompok; (e) Mempresentasikan hasil diskusi
kelompok; (f) Memberikan tanggapan terhadap kelompok lain dan (g) Menyimpulkan
hasil diskusi.[11]
Sejalan
dengan hal-hal yang perlu disiapkan dalam metode diskusi, berikut pemaparan
Roestiyah perihal mengenai tujuan dari teknik diskusi antara lain : (a) Dengan
diskusi murid didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk
memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain; (b) Murid
mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, Karena hal itu perlu untuk melatih
kehidupan yang demokratis. Dengan demikian murid melatih diri untuk menyatakan
pendapatnya sendiri secara lisan tentang suatu masalah bersama; dan (c) Diskusi
memberikan kemungkinan pada murid untuk belajar berpartisipasi dalam
pembicaraan.[12]
Metode Penelitian
Dalam
hal ini pendekatan penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hadari yang dikutip oleh Milda M O Laluputty,
dkk bahwa pendekatan kualitatif dipahami sebagai prosedur pemecahan masalah
yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek-subjek pada saat
sekarang berdasarkan fakta-fakta yang
tampak atau sebagaimana adanya.[13]
Lebih lanjut dijelaskan oleh Chalid Narbuka dan Abu Ahmadi bahwa penelitian
adalah deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau melukiskan secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fenomena yang diselidiki. Selain itu
analisa deskriptif dipahami juga sebagai suatu bentuk penelitian yang berusaha
untuk menentukan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data,
sehingga bertujuan untuk mendeskripsikan dan memecahkan masalah secara
sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat masyarakat serta
sasaran dan informasi yang diteliti.[14]
Penelitian
ini dilakukan di SMP Negeri 10 Sokan Kecamatan Sokan Provinsi Kalimantan Barat.
Alasan
penelitian dilakukan di SMP Negeri 10 Sokan karena selain tempat tugas penulis
bahwa secara keseluruhan peserta didik kelas VIII belum terampil dalam
berkomunikasi. Adapun teknik pengumpulan data berdasarkan observasi.
Hasil Penelitian
Pada tahapan
rancangan penelitian ini pelaksanaan pembelajaran diawali dengan melaksanakan
pembelajaran awal. Pelaksanaan dilakukan tiga kali yaitu pembelajaran pra
siklus, siklus I dan siklus II. Masing-masing terdiri dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
1)
Pembelajaran
Awal ( Pra Siklus )
a. Perencanaan
Perencanaan awal
dilakukan dengan mempersiapkan pembelajaran sebagaimana biasanya berupa RPP.
Materi yang diambil adalah mengenai membangun solidaritas di tengah masyarakat
majemuk. Adapun rangkaian kegiatan pada tahap ini yaitu :
1. Menyusun
RPP
2. Menyiapkan
media dan sumber bahan pembelajaran
3. Menyusun
lembar kerja
4. Menggunakan
metode diskusi
5. Menyusun
lembar observasi aktifitas guru dan peserta didik beserta indikatornya
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan
pembelajaran awal dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran kelas VIII
SMPN 10 Sokan dengan menggunakan instrumen penelitian. Adapun teman sejawat
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi
melalui diskusi kelompok. Tahapan pelaksanaannya sebagai berikut :
1. Guru
melakukan apersepsi
2. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Guru
menjelaskan materi membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk
4. Guru
memberi instruksi kepada peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi
5. Menentukan
tugas yang harus dilaksanakan tiap kelompok
6. Melaksanakan
diskusi kelompok
7. Peserta
didik mempresentasikan hasil diskusi
8. Memberikan
tanggapan terhadap kelompok lain
9. Guru
mengapresiasi hasil diskusi peserta didik
10. Guru
bersama peserta didik menyimpulkan hasil diskusi
11. Guru
menyampaikan pesan agar peserta didik dapat berpartisipasi lebih baik lagi saat
berdiskusi.
c. Pengamatan
Pengamatan
dilakukan oleh penulis dan teman sejawat menggunakan lembar observasi yang
berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran beserta
indikatornya. Pengamatan terutama dilakukan agar mengetahui kekurangan dan
kelebihan yang ditunjukan peserta didik dalam berkomunikasi pada kegiatan
pembelajaran sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan
pembelajaran selanjutnya.
d. Refleksi
Setelah
mengamati hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan pembelajaran awal,
maka guru mengadakan suatu refleksi untuk mengetahui kelemahan peserta didik
selama proses pembelajaran berlangsung. Melihat hasil komunikasi peserta didik yang
cenderung takut salah dalam menjawab guru, maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran ke siklus I
2)
Siklus
I
Pelaksanaan
perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I mencakup perencanaan,
pelaksanaan, tindakan dan refleksi dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
a. Perencanaan
Perbaikan
pembelajaran siklus I dilakukan berdasarkan hasil refleksi terhadap
pembelajaran materi membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk dengan
tahapannya sebagai berikut :
1. Menyiapkan
sumber bahan dan media yang digunakan pada saat perbaikan pembelajaran siklus I
2. Menyusun
rencana perbaikan pembelajaran siklus I
3. Membuat
skenario diskusi kelompok
4. Peserta
didik mempresentasikan hasil diskusi
5. Guru
mengapresiasi hasil diskusi kelompok
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan
pembelajaran siklus I dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan instrumen penelitian, teman sejawat melakukan pengamatan
terhadap tingkah laku peserta didik dalam keterampilan komunikasi melalui
metode diskusi.
Adapun
tahapan pelaksanaannya yaitu :
1. Melakukan
apersepsi
2. Menyampaikan
tujuan pembelajaran
3. Peserta
didik melakukan kegiatan berdiskusi mengenai materi membangun solidaritas di
tengah masyarakat majemuk.
4. Peserta
didik berdiskusi secara kelompok
5. Perwakilan
peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok
6. Peserta
didik saling menanggapi hasil kerja masing-masing kelompok dengan dipandu oleh
guru
7. Guru
mengapresiasi hasil diskusi peserta didik
8. Guru memberikan perbaikan dan pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah sebagai tindak lanjut.
c. Pengamatan
Teman
sejawat melakukan pengamatan menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan
guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran beserta indikator-indikatornya.
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan peserta didik
dalam keterampilan mengkomunikasikan pendapat pada kelompoknya. Dalam hal ini
adakah peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik terhadap guru dan
sesama temannya jika dibandingkan dengan tahap pra siklus, sehingga dapat
menjadi masukan dalam melakukan kegiatan pembelajaran berikutnya.
d. Refleksi
Setelah
memeriksa hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan pembelajaran siklus I,
selanjutnya penulis mengadakan refleksi untuk mengetahui hambatan, kendala,
kekurangan serta kelebihan saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Ternyata ditemukan
hasil yang belum memuaskan mengenai keterampilan peserta didik dalam
berkomunikasi saat terjadi tanya jawab antara guru dengan peserta didik.
Beberapa peserta didik terkesan masih malu dalam memberikan jawaban atas
pertanyaan guru. Meskipun sudah ada beberapa peserta didik yang memberanikan
diri untuk bertanya kepada guru, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran
pada siklus II.
3)
Siklus
II
Pelaksanaan
perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II, meliputi perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun rinciannya sebagai berikut :
a. Perencanaan
Perbaikan
pembelajaran siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi terhadap perbaikan
pembelajaran siklus I. Adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut :
1. Menyiapkan
sumber bahan dan media yang akan dipakai pada pelaksanaan pembelajaran siklus
II
2. Menyusun
rencana perbaikan pembelajaran siklus II
3. Peserta
didik melakukan kegiatan berdiskusi
4. Peserta
didik berdiskusi secara kelompok
5. Peserta
didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas
6. Peserta
didik saling menanggapi hasil kerja masing-masing kelompok dengan dipandu oleh
guru
7. Peserta
didik bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran
8. Guru
mengapresiasi hasil diskusi masing-masing kelompok.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan
pembelajaran awal dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran dengan
menggunakan instrumen penelitian, teman sejawat melakukan pengamatan
terhadap tingkah laku guru dalam mengajar
melalui metode berdiskusi.
Adapun
tahapan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan sebagai
berikut :
1.
Melakukan apersepsi
2.
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan
motivasi
3.
Menyampaikan materi pembelajaran
4.
Peserta didik membentuk kelompok untuk
berdiskusi
5.
Perwakilan peserta didik tampil
mempresentasikan hasil diskusi kelompok
6.
Peserta didik menanggapi hasil diskusi
tiap kelompok dipandu oleh guru
7.
Peserta didik bersama guru menyimpulkan
hasil diskusi
8.
Guru mengapresiasi hasil diskusi
masing-masing kelompok serta memberi motivasi.
Pada
tahapan tersebut teman sejawat melakukan pengamatan menggunakan lembar
observasi yang diisi kegiatan guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran
beserta indikator-indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana perbaikan peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP
Negeri 10 Sokan. Hasilnya telah terjadi peningkatan keterampilan komunikasi
peserta didik meskipun tidak secara signifikan karena pada beberapa peserta
didik belum menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam berkomunikasi.
d. Refleksi
Setelah
memeriksa hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan siklus II, penulis
mengadakan refleksi untuk mengetahui peningkatan keterampilan komunikasi
peserta didik. Dari total keseluruhan peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10
Sokan yang berjumlah 9 jiwa, maka didapati hasilnya sudah ada 6 orang yang
sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan keterampilan komunikasi.
Tabel 2.
|
No. |
Nama |
Kelas |
Umur |
Perilaku |
|
1. |
Aneng |
VIII |
17 Tahun |
Sudah mampu menjawab pertanyaan guru
meskipun belum terlalu signifikan |
|
2. |
Butet |
VIII |
14 Tahun |
Dapat berpikir dan memberi jawaban
saat menerima pertanyaan guru |
|
3. |
Entong |
VIII |
12 Tahun |
Masih belum ada perubahan yang
signifikan masih tetap harus melihat temannya dulu saat menerima pertanyaan
dari guru |
|
4. |
Ebit |
VIII |
19 Tahun |
Belum ada peningkatan sama sekali,
jika sudah tidak mampu menjawab langsung kembali ke tempat duduk meskipun
guru belum selesai bertanya |
|
5. |
Herman Niyus |
VIII |
14 Tahun |
Sudah terjadi peningkatan yang
signifikan, sudah mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik |
|
6. |
Ovi |
VIII |
20 Tahun |
Sudah berani tampil di depan kelas
untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya.
|
|
7. |
Ilo |
VIII |
16 Tahun |
Belum terjadi peningkatan komunikasi
yang signifikan |
|
8. |
Rudi |
VIII |
17 Tahun |
Sudah mampu berkomunikasi terhadap
guru
|
|
9. |
Talis |
VIII |
16 Tahun |
Sudah mengalami peningkatan dalam
menjawab pertanyaan guru |
Kesimpulan
Dari
hasil penelitian penulis dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta
didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui metode diskusi, maka ada 6 orang
peserta didik yang sudah menunjukan keterampilan komunikasi dengan indikatornya
sudah menunjukan peningkatan kemampuan dalam menjawab pertanyaan guru dengan lancar
dan sudah mampu mengajukan pertanyaan kepada guru tentang apa yang belum
diketahuinya. Melalui metode diskusi ternyata didapati telah terjadi
peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10
Sokan dengan persentase sekitar 70-75 % dari keseluruhan jumlah peserta didik.
Metode diskusi perlu dilakukan secara berkesinambungan agar peserta didik
terlatih dalam berkomunikasi baik terhadap temannya maupun terhadap gurunya.
Melalui pendekatan metode diskusi disertai motivasi dan edukasi contoh-contoh
komunikasi yang baik, peserta didik terlatih dalam komunikasi dan interaksi selama proses pembelajaran serta
termotivasi untuk berinisiati berkomunikasi terhadap gurunya dan temannya.
Implikasi
Adapun
implikasi dari penelitian tersebut antara lain yaitu :
1. Setiap
guru-guru SMP Negeri 10 Sokan perlu menggunakan metode diskusi secara berkesinambungan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas
VIII.
2. Guru-guru
SMP Negeri 10 Sokan perlu menjelaskan dan memberikan contoh-contoh komunikasi yang baik di dalam kelas maupun di luar kelas agar peserta didik termotivasi
dan terinspirasi dalam berkomunikasi.
3. Guru-guru
SMP Negeri 10 Sokan perlu melakukan komunikasi lebih lanjut dalam kehidupan
sehari- hari peserta didik kelas VIII untuk mengurangi rasa takut dan malu
peserta didik saat berkomunikasi kepada guru.
Daftar Pustaka
Wiwik Widiyati, “Belajar dan
Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme, Journal
Vol. 3, No. 2 Edisi Jul – Des (2014)
Ruhaimi, “Peningkatan Siswa dalam
Pembelajaran IPA Menggunakan Model Kooperatif Jigsaw pada Kelas VI SDN
04,”Artikel Penelitian” (2013)
Yandry Pagappong, “Peningkatan Disiplin Kerja
Pegawai pada Kantor Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda
Seberang, eJurnal Ilmu Pemerintahan, (2015)
Delas Lalla Melati, Maria M Minarsih dan Azis
Fathoni, “Pengaruh Pendidikan, Keterampilan, Basic skill Terhadap Karir untuk
Keinginan Berpindah Kerja,” Journal Of
Management Vol. 2 No. 2 (2016)
Sudarto, “Keterampilan dan NIlai Sebagai Materi
Pendidikan dalam Perspektif Islam, “ Jurnal
Ai Lubab, Vol. 1 No. 1 (2016)
I Wayan Redhana, “Mengembangkan Keterampilan Abad
ke-21 dalam Pembelajaran”, Jurnal Inovasi
Pendidikan Kimia, Vol. 13 No. 1 (2019)
Zubaidah, S. (2018). Mengenal 4C :
Learning and Inovation skill untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Makalah: Disampaikan dalam seminar 2nd
Science Education National Conference di Universitas Trunojoyo Madura 13
Oktober
Hutagalung, I. ”Pengembangan
Kepribadian” ( Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif ). Jakarta: 2007
Dainuri,
M. N. “Penerapan Metode Kerja Kelompok Teknik Kepala Bernomor Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Siswa dalam Pembelajaran IPS ( Penelitian
Tindakan Kelas di Kelas IV SDN Telagasari I Kecamatan Lelea Kabupaten
Indramayu). Universitas Pendidikan Indonesia. 2009
Ika Supriyati, “Penerapan Metode diskusi dalam
Pembelajaran Keterampilan Berbicara pada Siswa Kelas VIII MTSN Palu”, Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol. 5 No. 1
(2020): 3
Mawardi
Ahmad, “ Penerapan Metode Diskusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada
Pelajaran Fiqh”, Jurnal Ai-Hikmah, Vol.
15 No. 1, 2018
Roestiyah, Strategi
Belajar Mengajar, Jakarta: Rinika
Cipta, 2001
Milda
M O Latuputty dkk, “Persepsi Masyarakat Terhadap Mantan Narapidana” Jurnal Ilmu Sosial Keagamaan IAKN AMBON,
Vol. 1 No. 1 Juni 2020
[1]
Wiwik Widiyati, “Belajar dan Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme, Journal Vol. 3, No. 2 Edisi Jul – Des (2014) : 181
[2]
Ruhaimi, “Peningkatan Siswa dalam Pembelajaran IPA Menggunakan Model Kooperatif
Jigsaw pada Kelas VI SDN 04,”Artikel Penelitian” (2013)
[3]
Yandry Pagappong, “Peningkatan Disiplin Kerja Pegawai pada Kantor Kelurahan
Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda Seberang, eJurnal Ilmu
Pemerintahan, (2015): 3
[4]
Delas Lalla Melati, Maria M Minarsih dan Azis Fathoni, “Pengaruh Pendidikan,
Keterampilan, Basic skill Terhadap Karir untuk Keinginan Berpindah Kerja,” Journal Of Management Vol. 2 No. 2
(2016): 4
[5]
Sudarto, “Keterampilan dan NIlai Sebagai Materi Pendidikan dalam Perspektif
Islam, “ Jurnal Ai Lubab, Vol. 1 No.
1 (2016): 3
[6]
I Wayan Redhana, “Mengembangkan Keterampilan Abad ke-21 dalam Pembelajaran”, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 13
No. 1 (2019):
[7]
Zubaidah, S. (2018). Mengenal 4C : Learning and Inovation skill untuk
Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Makalah:
Disampaikan dalam seminar 2nd Science Education National Conference
di Universitas Trunojoyo Madura 13 Oktober
[8]
Hutagalung, I. ”Pengembangan Kepribadian”
( Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif ). Jakarta: 2007. hlm. 68-69
[9]
Dainuri, M. N. “Penerapan Metode Kerja Kelompok Teknik Kepala Bernomor Untuk
Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Siswa dalam Pembelajaran IPS ( Penelitian
Tindakan Kelas di Kelas IV SDN Telagasari I Kecamatan Lelea Kabupaten
Indramayu). Universitas Pendidikan Indonesia. 2009. hlm 27
[10]
Ika Supriyati, “Penerapan Metode diskusi dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara pada Siswa Kelas VIII MTSN Palu”, Jurnal
Bahasa dan Sastra, Vol. 5 No. 1 (2020): 3
[11]
Mawardi Ahmad, “ Penerapan Metode Diskusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Murid Pada Pelajaran Fiqh”, Jurnal
Ai-Hikmah, Vol. 15 No. 1, 2018. Hlm 65
[12]
Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rinika Cipta, 2001. hlm. 5
[13]
Milda M O Latuputty dkk, “Persepsi Masyarakat Terhadap Mantan Narapidana” Jurnal Ilmu Sosial Keagamaan IAKN AMBON,
Vol. 1 No. 1 Juni 2020
[14]
Milda M O Latuputty dkk, hlm. 9
0 komentar:
Posting Komentar