Selasa, 10 November 2020

Artikel

MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI

PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP NEGERI 10 SOKAN

MELALUI PENDEKATAN METODE DISKUSI

 

 

 

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui metode diskusi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif  kualitatif dimana data yang diperoleh berdasarkan observasi. Lokasi penelitian dilaksanakan pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru perlu melakukan metode diskusi yang berkesinambungan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas terhadap peserta didik kelas VIII agar peserta didik terlatih dalam berkomunikasi serta dapat belajar saling berinteraksi.

 

Kata Kunci : Meningkatkan, keterampilan, komunikasi, metode diskusi

 

 

PENDAHULUAN

Keterampilan merupakan suatu kompetensi yang telah menjadi perhatian serius bagi pemerhati pendidikan. Perspektif tersebut tidak terlepas dari keyakinan bahwa suatu keterampilan yang dimilki dapat meningkatkan hasil maupun pencapaian yang maksimal dari suatu hasil kerja keras sehingga mendapatkan sebuah pengakuan apresiasi dari berbagai kalangan. Pemerintah telah meilhat begitu pentingnya kompetensi keterampilan yang perlu dibangun sejak awal pendidikan peserta didik yang kemudian hari menjadi cikal bakal lahirnya suatu masyarakat. Arah tujuan kompetensi pendidikan saat ini tidak terfokus pada satu kompetensi saja melainkan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi tersebut jika dikolaborasikan dan disinergikan akan menuju kepada suatu kombinasi yang maksimal yaitu kecerdasan.

Jika dijabarkan lagi maka keterampilan meliputi suatu kompetensi yang cukup luas dan tidak terbatas pada satu bidang saja. Ada beberapa keterampilan yang  sudah dikenal dengan istilah keterampilan abad ke-21 4 C antara lain yaitu :

1.      Keterampilan berpikir kritis (Critical Thinking)

2.      Keterampilan dalam bekerja sama ( Colaboration )

3.      Keterampilan dalam berkomunikasi ( Comunication )

4.      Keterampilan dalam berkreasi dan berinovasi ( Creativity dan  Inovation )

Pemerintah telah menempatkan kompetensi keterampilan pada posisi yang sama dengan kompetensi sikap dan pengetahuan. Jika melihat pendidikan pada masa yang lalu, maka kompetensi keterampilan belum menjadi perhatian dalam pendidikan. Pendidikan kala itu memusatkan perhatiannya pada pencapaian kompetensi pengetahuan sebagai acuan atau patokan keberhasilan dalam suatu pendidikan. Akan tetapi pada masa kini dunia sama sama mengetahui bahwa seseorang hidup bukan saja karena kompetensi pengetahuan melainkan karena kompetensi keterampilan sebagai salah satu kecakapan hidup.

SMP Negeri 10 Sokan terletak di Desa Teluk Pongkal Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat. SMP Ngeri 10 berdiri sejak tahun 2017 dengan kapasitas ruang belajar yang tentunya masih baik. SMP Negeri 10 Sokan baru melakukan kegiatan pelaksanaan penerimaan peserta didik baru perdana pada bulan Juli tahun 2019 sehingga sampai dengan saat ini baru memiliki 2 rombongan belajar peserta didik. Jika akses jalan darat dapat dilalui dengan baik, maka jarak antara kecamatan Sokan dengan SMP Negeri 10 Sokan dapat ditempuh selama 45 menit. Akan tetapi kondisi jalan darat belum maksimal sehingga akses utama menuju SMP Negeri 10 Sokan adalah melalui jalur sungai yang dapat ditempuh antara 3 - 4 jam.

Peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan berjumlah sebanyak 9 siswa terdiri dari 5 laki-laki dan 4 perempuan. Usia peserta didik yang termuda di kelas VIII berumur 12 tahun dan usia tertua berumur 20 tahun. Berikut ini dapat penulis deskripsikan mengenai data dan kemampuan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan.

Tabel 1

No.

Nama

Kelas

Umur

Perilaku

1.

Aneng

VIII

17 Tahun

Cenderung malu dan tidak percaya diri saat komunikasi terhadap guru di kelas

2.

Butet

VIII

14 Tahun

Belum percaya diri sepenuhnya dalam memberi jawaban terhadap guru di kelas

3.

Entong

VIII

12 Tahun

Masih sangat lambat dan didahului melihat temannya dulu saat ditanya guru

4.

Ebit

VIII

19 Tahun

Sangat malu malu dan tidak yakin dengan diri sendiri pada saat berinteraksi di depan guru

5.

Herman Niyus

VIII

14 Tahun

Cukup baik dalam menjawab guru namun masih ada perasaan takut salah saat menjawab pertanyaan guru

6.

Ovi

VIII

20 Tahun

Masih malu malu

 

7.

Ilo

VIII

16 Tahun

Takut salah dalam menjawab pertanyaan guru dan masih malu -malu

8.

Rudi

VIII

17 Tahun

Belum percaya diri

 

9.

Talis

VIII

16 Tahun

Takut salah dalam menjawab pertanyaan guru dan belum percaya diri

 

Sejak penulis bertugas di SMP Negeri 10 Sokan terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 semua  peserta didik kelas VIII tidak ada yang berinisiatif terlebih dahulu menyapa guru kecuali disapa oleh guru terlebih dahulu. Ketika penulis hendak memasuki kantor dan bertemu peserta didik yang berada di depan kantor namun tidak ada diantara peserta didik yang menyapa. Sebagaimana data yang ditampilkan pada tabel 1 maka dapat dideskripsikan bahwa hampir keseluruhan peserta  didik kelas VIII cenderung malu, kurang percaya diri, takut salah dalam memberi jawaban dan belum terampil dalam berkomunikasi dengan baik dan benar terhadap guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran ketika penulis bertanya kepada salah seorang peserta didik, ekspresi yang timbul terkesan menunjukan  rasa takut salah dalam menjawab. Pada waktu yang sama penulis juga bertanya kepada salah seorang peserta didik yang lainnya, dia menjawab pertanyaan tetapi dengan sikap malu-malu. Kemudian penulis juga bertanya kepada salah seorang peserta didik lainnya, hasilnya dia menjawab namun belum terampil berkomunikasi. Kondisi yang demikian tentu tidak baik dipandang dan perlu ada perubahan dalam hal keterampilan berkomunikasi.

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka dipandang perlu untuk meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui metode diskusi. Pemilihan metode diskusi dipandang tepat karena menciptakan suatu iklim dimana peserta didik belajar terbiasa dalam berkomunikasi yang dimulai dengan memberikan gagasan atau ide dalam kelompok mereka maupun pada saat presentasi di depan kelas. Berdasarkan uraian masalah maka rumusannya yaitu bagaimanakah peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan menggunakan metode diskusi ?

Jean Piaget membagi tahap perkembangan anak sesuai usia diantaranya yaitu :

1.      Periode sensorimotor ( usia 0-2 tahun )

2.      Periode pra operasional (usia  2-7 )

3.      Periode operasional konkret ( usia 7 – 11 tahun )

4.      Periode operasional formal ( usia 11- sampai dewasa )

Mengacu pada teori Jean Piaget tersebut maka peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan berada pada fase periode operasional formal. Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori piaget. Tahap ini mulai dialami anak usia sebelas tahun ( pubertas ) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.[1] Berdasarkan teori Jean Piaget tersebut maka seharusnya peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan tersebut sudah mampu dalam hal berkomunikasi kepada guru saat interaksi dalam kegiatan pembelajaran. Namun pada kenyataannya peserta didik belum menunjukkan kompetensi keterampilan komunikasi yang baik pada saat terjadinya interaksi pembelajaran antara guru terhadap peserta didik.

 

 

Kajian Pustaka

Pengertian Meningkatkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata peningkatan adalah kata benda, meningkatkan/peningkatan adalah kata kerja dengan arti antara lain : 1). Menaikkan (derajat, taraf dsb); mempertinggi, memperhebat (produksi, dsb), 2). Mengangkat diri; memegahkan diri. Peningkatan adalah proses perbuatan, cara meningkatkan usaha dan sebagainya.[2] Sedangkan menurut Adi seperti yang dikutip Yandry Pagappong peningkatan berasal dari kata tingkat. yang berarti lapis atau lapisan dari sesuatu yang kemudian membentuk susunan. Tingkat juga dapat berarti  pangkat, taraf dan kelas. Sedangkan peningkatan berarti kemajuan. Secara umum peningkatan merupakan upaya untuk menambah derajat, tingkat dan kualitas maupun kuantitas. Kata peningkatan juga dapat berarti menggambarkan perubahan dari keadaan atau sifat yang negatif berubah menjadi positif.[3]

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peningkatan merupakan suatu kondisi dimana terjadi perubahan dari yang sebelumnya masih dikategorikan rendah atau belum mencapai target sebagaimana seharusnya, kini menjadi kategori yang sudah lebih baik dan memenuhi target yang diharapkan. Peningkatan merupakan suatu keadaan yang dapat diukur dan dapat diamati.

Pengertian Keterampilan

Keterampilan merupakan suatu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. Gordon mengatakan bahwa keterampilan adalah kemampuan untuk mengoperasikan pekerjaan secara mudah dan cermat.[4] Pengertian lain bahwasannya kata keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan. Keterampilan berarti kecakapan untuk menyelesaikan tugas.[5] Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan merupakan suatu kemampuan dalam melakukan dan mengerjakan sesuatu. Pemerintah telah memusatkan kurikulum pendidikan yang mengacu pada tercapainya kompetensi keterampilan dalam semua jenjang pendidikan. Dunia pendidikan kini mengenal yang namanya keterampilan abad 21 sebagai suatu kecakapan hidup yang dibutuhkan dalam kehidupan seseorang. Sebagaimana pernyataan I Wayan Redhana bahwa keterampilan abad ke-21 merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai oleh setiap orang agar berhasil dalam menghadapi tantangan, permasalahan, kehidupan dan karir di abad ke-21.[6] Berdasarkan pendapat di atas untuk menjawab tantangan, permasalahan dan kehidupan dan karir, maka peserta didik perlu memiliki adanya keterampilan.

Pengertian Komunikasi

Pendidikan saat ini berusaha untuk mengantarkan peserta didik menuju pribadi yang memiliki keterampilan abad 21 yang mana salah satunya ialah keterampilan berkomunikasi (Communication ). Keterampilan berkomunikasi ( Communication ) merupakan keterampilan untuk menyampaikan pemikiran, gagasan, ide, pengetahuan, dan informasi baru yang dimiliki kepada orang lain melalui lisan, tulisan, gambar, grafis atau angka. Keterampilan ini termasuk keterampilan mendengarkan, memperoleh informasi, dan menyampaikan gagasan di hadapan orang banyak[7].

Komunikasi tentunya tidak sekedar berbicara melainkan dapat menyampaikan pesan maupun jawaban dengan baik sehingga maksud dan pengertian dapat dipahami secara baik pula. Oleh karena itu komunikasi juga perlu dilakukan secara efektif agar tidak terkesan berbelit-belit apalagi bertele-tele. Hutagalung berpendapat bahwa ada beberapa cara berkomunikasi yang efektif :

1.   Melihat lawan bicara


Pembicara menatap bola mata ataupun kening lawan bicaranya, sehingga tidak terjadinya ketersinggungan, tidak menghadapkan kea rah kanan atau kiri, dan menatap pandangan yang tidak marah atau sinis.


2.   Suaranya terdengar jelas

Percakapan harus memperhatikan keras atau tidak suara, tidak hanya terdengar samar-samar, sehingga menimbulkan ketidakjelasan inti dari percakapan.

3.   Ekspresi wajah yang menyenangkan

Ekspresi wajah merupakan gambaran dari hati seorang sehingga tidak menampilkan ekspresi yang tidak enak

4.   Tata bahasa yang baik

Penggunaan bahasa sesuai dengan lawan bicaranya, misalnya saja saat berbicara dengan anak balit, maka gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Serta berbicara dengan guru harus dengan bahasa yang sopan.

5.   Pembicaraan mudah dimengerti, singkat dan jelas

Pemilihan tata bahasa yang baik dan kata-kata yang mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan kebingungan lawan bicara.[8]

 

Pernyataan di atas sejalan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Jacob sebagaimana dikutip Dainuri bahwa terdapat beberapa aspek-aspek pengkomunikasian yang perlu dikembangkan yaitu :

1.   Mempresentasikan, meliputi menunjukkan kembali (menerjemahkan) suatu ide atau masalah

dalam bentuk baru.


2. Mendengar, peserta didik harus belajar mendengarkan dengan teliti terhadap komentar dan pertanyaan lain. Mendengar dengan teliti dapat mengkonstruksi pengetahuan yang sistematis.


3.  Membaca, dalam hal ini menekankan pada membaca literatur peserta didik dan secara bertahap meningkatkan menggunakan buku teks.


4.   Berdiskusi, bertujuan untuk mengembangkan diskusi kelas dan membantu peserta didik

mempraktikkan keterampilan komunikasi lisan


5.   Menulis, lebih menekankan pada mengekspresikan ide-ide dalam bentuk tulisan[9]

 

Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpuan bahwa komunikasi merupakan kemampuan dalam menjelaskan pemahaman maupun pendapat atau pertanyaan dari seseorang dalam bentuk lisan agar dapat dimengerti oleh orang lain. Lebih lanjut bahwa komunikasi yang baik yaitu efektif dimana suara terdengar jelas, pembicaraan mudah dimengerti, memiliki tata bahasa yang baik disertai wajah yang menyenangkan.

Pengertian Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau penyusunan berbagai alternatif pemecahan atas sesuatu masalah (Suryosubroto, 2009:167). Sedangkan menurut Semiawan (dalam Nurjamal, dkkk 2014:24) metode diskusi adalah suatu cara penyampaian suatu materi pelajaran melalui sarana pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.[10] Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode diskusi merupakan suatu kondisi dalam bentuk interaksi antar peserta didik yang di dalamnya terjadi pertukaran pikiran guna menarik suatu kesimpulan maupun memecahkan persoalan.

Posedur Metode Diskusi

Dalam melaksanakan metode diskusi tentu perlu memperhatikan prosedur dari pada metode diskusi itu sendiri. Mengenai prosedur metode diskusi Mawardi Ahmad dkk, mengemukakan bahwa hal-hal yang harus dipersiapkan antara lain : (a) Guru menyampaikan tujuan yang diharapkan; (b) Membentuk kelompok dan menentukan jumlah murid tiap kelompok (c) Menentukan tugas yang harus dilaksanakan tiap kelompok; (d) Melaksanakan diskusi kelompok; (e) Mempresentasikan hasil diskusi kelompok; (f) Memberikan tanggapan terhadap kelompok lain dan (g) Menyimpulkan hasil diskusi.[11]

Sejalan dengan hal-hal yang perlu disiapkan dalam metode diskusi, berikut pemaparan Roestiyah perihal mengenai tujuan dari teknik diskusi antara lain : (a) Dengan diskusi murid didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain; (b) Murid mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, Karena hal itu perlu untuk melatih kehidupan yang demokratis. Dengan demikian murid melatih diri untuk menyatakan pendapatnya sendiri secara lisan tentang suatu masalah bersama; dan (c) Diskusi memberikan kemungkinan pada murid untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan.[12]

Metode Penelitian

Dalam hal ini pendekatan penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hadari yang dikutip oleh Milda M O Laluputty, dkk bahwa pendekatan kualitatif dipahami sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek-subjek pada saat sekarang  berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.[13] Lebih lanjut dijelaskan oleh Chalid Narbuka dan Abu Ahmadi bahwa penelitian adalah deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau melukiskan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fenomena yang diselidiki. Selain itu analisa deskriptif dipahami juga sebagai suatu bentuk penelitian yang berusaha untuk menentukan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, sehingga bertujuan untuk mendeskripsikan dan memecahkan masalah secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat masyarakat serta sasaran dan informasi yang diteliti.[14]

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 10 Sokan Kecamatan Sokan Provinsi Kalimantan Barat.

Alasan penelitian dilakukan di SMP Negeri 10 Sokan karena selain tempat tugas penulis bahwa secara keseluruhan peserta didik kelas VIII belum terampil dalam berkomunikasi. Adapun teknik pengumpulan data berdasarkan observasi.

Hasil Penelitian

Pada tahapan rancangan penelitian ini pelaksanaan pembelajaran diawali dengan melaksanakan pembelajaran awal. Pelaksanaan dilakukan tiga kali yaitu pembelajaran pra siklus, siklus I dan siklus II. Masing-masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

1)   Pembelajaran Awal ( Pra Siklus )

a.    Perencanaan

Perencanaan awal dilakukan dengan mempersiapkan pembelajaran sebagaimana biasanya berupa RPP. Materi yang diambil adalah mengenai membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk. Adapun rangkaian kegiatan pada tahap ini yaitu :

1.   Menyusun RPP

2.   Menyiapkan media dan sumber bahan pembelajaran

3.   Menyusun lembar kerja

4.   Menggunakan metode diskusi

5.   Menyusun lembar observasi aktifitas guru dan peserta didik beserta indikatornya

 

b.   Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran kelas VIII SMPN 10 Sokan dengan menggunakan instrumen penelitian. Adapun teman sejawat melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi melalui diskusi kelompok. Tahapan pelaksanaannya sebagai berikut :

1.   Guru melakukan apersepsi

2.   Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

3.   Guru menjelaskan materi membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk

4.   Guru memberi instruksi kepada peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi

5.   Menentukan tugas yang harus dilaksanakan tiap kelompok

6.   Melaksanakan diskusi kelompok

7.   Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi

8.   Memberikan tanggapan terhadap kelompok lain

9.   Guru mengapresiasi hasil diskusi peserta didik

10.  Guru bersama peserta didik menyimpulkan hasil diskusi

11.  Guru menyampaikan pesan agar peserta didik dapat berpartisipasi lebih baik lagi saat berdiskusi.

c.    Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh penulis dan teman sejawat menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran beserta indikatornya. Pengamatan terutama dilakukan agar mengetahui kekurangan dan kelebihan yang ditunjukan peserta didik dalam berkomunikasi pada kegiatan pembelajaran sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan pembelajaran selanjutnya.

 

d.   Refleksi

Setelah mengamati hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan pembelajaran awal, maka guru mengadakan suatu refleksi untuk mengetahui kelemahan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Melihat hasil komunikasi peserta didik yang cenderung takut salah dalam menjawab guru, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran ke siklus I

 

2)   Siklus I

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I mencakup perencanaan, pelaksanaan, tindakan dan refleksi dengan rincian kegiatan sebagai berikut :

a.     Perencanaan

Perbaikan pembelajaran siklus I dilakukan berdasarkan hasil refleksi terhadap pembelajaran materi membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk dengan tahapannya sebagai berikut :

1.   Menyiapkan sumber bahan dan media yang digunakan pada saat perbaikan pembelajaran siklus I

2.   Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I

3.   Membuat skenario diskusi kelompok

4.   Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi

5.   Guru mengapresiasi hasil diskusi kelompok

b.   Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen penelitian, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap tingkah laku peserta didik dalam keterampilan komunikasi melalui metode diskusi.

Adapun tahapan pelaksanaannya yaitu :

1.   Melakukan apersepsi

2.   Menyampaikan tujuan pembelajaran

3.   Peserta didik melakukan kegiatan berdiskusi mengenai materi membangun solidaritas di tengah masyarakat majemuk.

4.   Peserta didik berdiskusi secara kelompok

5.   Perwakilan peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok

6.   Peserta didik saling menanggapi hasil kerja masing-masing kelompok dengan dipandu oleh guru

7.   Guru mengapresiasi hasil diskusi peserta didik

8.   Guru memberikan perbaikan dan pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah sebagai tindak lanjut.



c.    Pengamatan

Teman sejawat melakukan pengamatan menggunakan lembar observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran beserta indikator-indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan peserta didik dalam keterampilan mengkomunikasikan pendapat pada kelompoknya. Dalam hal ini adakah peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik terhadap guru dan sesama temannya jika dibandingkan dengan tahap pra siklus, sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan pembelajaran berikutnya.

 

d.   Refleksi

Setelah memeriksa hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan pembelajaran siklus I, selanjutnya penulis mengadakan refleksi untuk mengetahui hambatan, kendala, kekurangan serta kelebihan saat berlangsungnya proses pembelajaran.

Ternyata ditemukan hasil yang belum memuaskan mengenai keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi saat terjadi tanya jawab antara guru dengan peserta didik. Beberapa peserta didik terkesan masih malu dalam memberikan jawaban atas pertanyaan guru. Meskipun sudah ada beberapa peserta didik yang memberanikan diri untuk bertanya kepada guru, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

3)   Siklus II

Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun rinciannya sebagai berikut :

a.    Perencanaan

Perbaikan pembelajaran siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi terhadap perbaikan pembelajaran siklus I. Adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut :

1.   Menyiapkan sumber bahan dan media yang akan dipakai pada pelaksanaan pembelajaran siklus II

2.   Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus II

3.   Peserta didik melakukan kegiatan berdiskusi

4.   Peserta didik berdiskusi secara kelompok

5.   Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas

6.   Peserta didik saling menanggapi hasil kerja masing-masing kelompok dengan dipandu oleh guru

7.   Peserta didik bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran

8.   Guru mengapresiasi hasil diskusi masing-masing kelompok.

 

b.   Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 90 menit dalam proses pembelajaran  dengan  menggunakan instrumen penelitian, teman sejawat melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam mengajar  melalui metode berdiskusi.

Adapun tahapan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan sebagai berikut :

1.         Melakukan apersepsi

2.         Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi

3.         Menyampaikan materi pembelajaran

4.         Peserta didik membentuk kelompok untuk berdiskusi

5.         Perwakilan peserta didik tampil mempresentasikan hasil diskusi kelompok

6.         Peserta didik menanggapi hasil diskusi tiap kelompok dipandu oleh guru

7.         Peserta didik bersama guru menyimpulkan hasil diskusi

8.         Guru mengapresiasi hasil diskusi masing-masing kelompok serta memberi motivasi.


c.   
Pengamatan

Pada tahapan tersebut teman sejawat melakukan pengamatan menggunakan lembar observasi yang diisi kegiatan guru, peserta didik dan interaksi pembelajaran beserta indikator-indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perbaikan peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan. Hasilnya telah terjadi peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik meskipun tidak secara signifikan karena pada beberapa peserta didik belum menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam berkomunikasi.

d.   Refleksi

Setelah memeriksa hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan siklus II, penulis mengadakan refleksi untuk mengetahui peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik. Dari total keseluruhan peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan yang berjumlah 9 jiwa, maka didapati hasilnya sudah ada 6 orang yang sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan keterampilan komunikasi.

Tabel 2.

No.

Nama

Kelas

Umur

Perilaku

1.

Aneng

VIII

17 Tahun

Sudah mampu menjawab pertanyaan guru meskipun belum terlalu signifikan

2.

Butet

VIII

14 Tahun

Dapat berpikir dan memberi jawaban saat menerima pertanyaan guru

3.

Entong

VIII

12 Tahun

Masih belum ada perubahan yang signifikan masih tetap harus melihat temannya dulu saat menerima pertanyaan dari guru

4.

Ebit

VIII

19 Tahun

Belum ada peningkatan sama sekali, jika sudah tidak mampu menjawab langsung kembali ke tempat duduk meskipun guru belum selesai bertanya

5.

Herman Niyus

VIII

14 Tahun

Sudah terjadi peningkatan yang signifikan, sudah mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik

6.

Ovi

VIII

20 Tahun

Sudah berani tampil di depan kelas untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya.

 

7.

Ilo

VIII

16 Tahun

Belum terjadi peningkatan komunikasi yang signifikan

8.

Rudi

VIII

17 Tahun

Sudah mampu berkomunikasi terhadap guru

 

9.

Talis

VIII

16 Tahun

Sudah mengalami peningkatan dalam menjawab pertanyaan guru

 

Kesimpulan

Dari hasil penelitian penulis dalam meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan melalui metode diskusi, maka ada 6 orang peserta didik yang sudah menunjukan keterampilan komunikasi dengan indikatornya sudah menunjukan peningkatan kemampuan dalam menjawab pertanyaan guru dengan lancar dan sudah mampu mengajukan pertanyaan kepada guru tentang apa yang belum diketahuinya. Melalui metode diskusi ternyata didapati telah terjadi peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII SMP Negeri 10 Sokan dengan persentase sekitar 70-75 % dari keseluruhan jumlah peserta didik. Metode diskusi perlu dilakukan secara berkesinambungan agar peserta didik terlatih dalam berkomunikasi baik terhadap temannya maupun terhadap gurunya. Melalui pendekatan metode diskusi disertai motivasi dan edukasi contoh-contoh komunikasi yang baik, peserta didik terlatih dalam komunikasi dan  interaksi selama proses pembelajaran serta termotivasi untuk berinisiati berkomunikasi terhadap gurunya dan temannya.

Implikasi

            Adapun implikasi dari penelitian tersebut antara lain yaitu :

1. Setiap guru-guru SMP Negeri 10 Sokan perlu menggunakan metode diskusi secara   berkesinambungan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik kelas VIII.

2.   Guru-guru SMP Negeri 10 Sokan perlu menjelaskan dan memberikan contoh-contoh komunikasi   yang baik di dalam kelas maupun di luar kelas agar peserta didik termotivasi dan terinspirasi dalam   berkomunikasi.

3.   Guru-guru SMP Negeri 10 Sokan perlu melakukan komunikasi lebih lanjut dalam kehidupan sehari-   hari peserta didik kelas VIII untuk mengurangi rasa takut dan malu peserta didik saat berkomunikasi kepada guru.

 

Daftar Pustaka

Wiwik Widiyati, “Belajar dan Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme, Journal  Vol. 3, No. 2 Edisi Jul – Des (2014)

Ruhaimi, “Peningkatan Siswa dalam Pembelajaran IPA Menggunakan Model Kooperatif Jigsaw pada Kelas VI SDN 04,”Artikel Penelitian” (2013)

Yandry Pagappong, “Peningkatan Disiplin Kerja Pegawai pada Kantor Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda Seberang, eJurnal Ilmu Pemerintahan, (2015)

Delas Lalla Melati, Maria M Minarsih dan Azis Fathoni, “Pengaruh Pendidikan, Keterampilan, Basic skill Terhadap Karir untuk Keinginan Berpindah Kerja,” Journal Of Management Vol. 2 No. 2 (2016)

Sudarto, “Keterampilan dan NIlai Sebagai Materi Pendidikan dalam Perspektif Islam, “ Jurnal Ai Lubab, Vol. 1 No. 1 (2016)

I Wayan Redhana, “Mengembangkan Keterampilan Abad ke-21 dalam Pembelajaran”, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 13 No. 1 (2019)

Zubaidah, S. (2018). Mengenal 4C : Learning and Inovation skill untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Makalah: Disampaikan dalam seminar 2nd Science Education National Conference di Universitas Trunojoyo Madura 13 Oktober

Hutagalung, I. ”Pengembangan Kepribadian” ( Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif ). Jakarta: 2007

Dainuri, M. N. “Penerapan Metode Kerja Kelompok Teknik Kepala Bernomor Untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Siswa dalam Pembelajaran IPS ( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas IV SDN Telagasari I Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu). Universitas Pendidikan Indonesia. 2009

Ika Supriyati, “Penerapan Metode diskusi dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara pada Siswa Kelas VIII MTSN Palu”, Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol. 5 No. 1 (2020): 3

Mawardi Ahmad, “ Penerapan Metode Diskusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada Pelajaran Fiqh”, Jurnal Ai-Hikmah, Vol. 15 No. 1, 2018

Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar,  Jakarta: Rinika Cipta, 2001

Milda M O Latuputty dkk, “Persepsi Masyarakat Terhadap Mantan Narapidana” Jurnal Ilmu Sosial Keagamaan IAKN AMBON, Vol. 1 No. 1 Juni 2020

 

 

 

 

 

 



[1] Wiwik Widiyati, “Belajar dan Pembelajaran Perspektif Teori Kognitivisme, Journal  Vol. 3, No. 2 Edisi Jul – Des (2014) : 181

[2] Ruhaimi, “Peningkatan Siswa dalam Pembelajaran IPA Menggunakan Model Kooperatif Jigsaw pada Kelas VI SDN 04,”Artikel Penelitian” (2013)

[3] Yandry Pagappong, “Peningkatan Disiplin Kerja Pegawai pada Kantor Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir Samarinda Seberang, eJurnal Ilmu Pemerintahan, (2015): 3

[4] Delas Lalla Melati, Maria M Minarsih dan Azis Fathoni, “Pengaruh Pendidikan, Keterampilan, Basic skill Terhadap Karir untuk Keinginan Berpindah Kerja,” Journal Of Management Vol. 2 No. 2 (2016): 4

[5] Sudarto, “Keterampilan dan NIlai Sebagai Materi Pendidikan dalam Perspektif Islam, “ Jurnal Ai Lubab, Vol. 1 No. 1 (2016): 3

[6] I Wayan Redhana, “Mengembangkan Keterampilan Abad ke-21 dalam Pembelajaran”, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 13 No. 1 (2019):

[7] Zubaidah, S. (2018). Mengenal 4C : Learning and Inovation skill untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0. Makalah: Disampaikan dalam seminar 2nd Science Education National Conference di Universitas Trunojoyo Madura 13 Oktober

[8] Hutagalung, I. ”Pengembangan Kepribadian” ( Tinjauan Praktis Menuju Pribadi Positif ). Jakarta: 2007. hlm. 68-69

[9] Dainuri, M. N. “Penerapan Metode Kerja Kelompok Teknik Kepala Bernomor Untuk Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Siswa dalam Pembelajaran IPS ( Penelitian Tindakan Kelas di Kelas IV SDN Telagasari I Kecamatan Lelea Kabupaten Indramayu). Universitas Pendidikan Indonesia. 2009. hlm 27

[10] Ika Supriyati, “Penerapan Metode diskusi dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara pada Siswa Kelas VIII MTSN Palu”, Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol. 5 No. 1 (2020): 3

[11] Mawardi Ahmad, “ Penerapan Metode Diskusi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Murid Pada Pelajaran Fiqh”, Jurnal Ai-Hikmah, Vol. 15 No. 1, 2018. Hlm 65

[12] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar,  Jakarta: Rinika Cipta, 2001. hlm. 5

[13] Milda M O Latuputty dkk, “Persepsi Masyarakat Terhadap Mantan Narapidana” Jurnal Ilmu Sosial Keagamaan IAKN AMBON, Vol. 1 No. 1 Juni 2020

[14] Milda M O Latuputty dkk, hlm. 9

David Parulian Silaban

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar